Sabtu, 26 September 2015

Pellegrini Yakin Persaingan Musim Ini Berlangsung Ketat



Pellegrini Yakin Persaingan Musim Ini Berlangsung Ketat - Manajer Manchester City Manuel Pellegrini memperkirakan persaingan yang sangat sengit untuk memenangkan Premier League sekarang ini lantaran relatif berimbangnya kemampuan setiap peserta.

Pellegrini menyebutkan bahwa biarpun di masa silam dominasi satu tim untuk jadi juara Premier League memanglah pernah terwujud, namun akan tidak terulang pada musim ini.

 " Mungkin saja Manchester United pernah mengerjakannya di saat kemarin. Lalu Chelsea sepanjang sebagian waktu, namun saat ini ada terlampau banyak tim bagus yang bikin hal semacam itu susah terulang, " kata Pellegrini seperti ditulis Sports Mole.

Kekalahan City saat menjamu West Ham United minggu kemarin dapat jadi bukti dari relatif berimbangnya kemampuan di Premier League sekarang ini. Walau sebenarnya saat sebelum kekalahan itu The Citizens tengah melaju dengan sempurna karena lima kemenangan.

 " Kami merasa tidak mujur lawan West Ham namun mereka telah bertahan dengan sangat baik, serta telah menang tandang di markas Arsenal serta Liverpool. Tak semua tim dapat mengerjakannya, namun terdapat beberapa tim bagus di arena ini ; terlampau banyak hingga tidak ada satu tim yang dapat melenggang demikian saja, " sebut Pellegrini.

 " Mudah-mudahan saja kami telah melupakan kekalahan itu. Tidak perduli seberapa bagus Anda bermain, tidak mungkin memenangi semua kompetisi lantaran Premier League tak seperti itu. Hampir semua tim dapat menaklukkan tim yang lain. Yang terutama yaitu terus yakin pada permainan Anda sendiri, " katanya.

City bakal menyambangi markas Tottenham Hotspur, Sabtu (26/9/2015) malam kelak. Baca juga : WengerSempat Tertarik Dengan Martial Namun Membatalkan Niat  dan juga  Lini Depan Liverpool MenjadiMasalah Paling Serius Musim Ini

Jumat, 25 September 2015

Lini Depan Liverpool Menjadi Masalah Paling Serius Musim Ini



Lini Depan Liverpool Menjadi Masalah Paling Serius Musim Ini - Liverpool perlu babak adu penalti untuk dapat menggagalkan langkah Carlisle United. Terdapat beberapa percobaan untuk cetak gol yang dikerjakan The Reds, namun cuma satu gol yang dapat mereka buat.

Pada laga yang dihelat di Anfield, Kamis (24/9) dinihari WIB, Liverpool bermain menguasai Carlisle yang notabene dibawah kelas Liverpool. Mereka bahkan juga unggul lebih dahulu melalui Danny Ings, saat sebelum Derek Asamoah menyamai kedudukan jadi 1-1.

Angka 1-1 itu bertahan hingga 120 menit hingga pertandingan mesti dituntaskan melalui babak adu penalti. Di babak tos-tosan ini, penjaga gawang kedua Liverpool, Adam Bogdan, jadi pahlawan dengan menggagalkan tiga penendang Carlisle. Liverpool menang 3-2 di babak adu penalti itu.

Meski menang, ada catatan yang sedikit mencemaskan dari Liverpool. Penyelesaian akhir mereka yang tercatat kurang efisien. Lini depan mereka kurang tajam.

Sky Sports mencatat, Liverpool menorehkan 20 shot yang mengarah pada tujuan serta 32 shot yang melebar selama 120 menit. Sejak mulai menang 1-0 atas Stoke City di minggu pertama Premier League, Liverpool tak pernah cetak melebihi 1 gol dalam 90 menit.

 " Kami puas dengan hasil ini. Ada rasa lega tersendiri di ruangan ganti serta beberapa pemain sangat puas, " tutur pelatih tim paling utama Liverpool, Gary McAllister, di website resmi tim.

 " Sudah pasti kami akan lebih bahagia bila dapat memenangi pertandingan ini dalam 90 menit. "

 " Saya pikir, kami mengawali pertandingan ini dengan baik, mengalirkan bola dengan baik, serta memainkan ritme yang pas. Namun, kehilangan Roberto Firmino buat kami mundur selangkah, " kata McAllister.

Firmino menderita  cedera serta mesti digantikan Divock Origi pada menit ke-35. Di babak kedua, manajer Brendan Rodgers coba meningkatkan daya gedor dengan memasukkan Philippe Coutinho. Nama yang dimaksud terakhir ini berkali-kali coba membobol gawang lawan melalui tendangan dari luar kotak penalti, tetapi tidak berhasil.

Liverpool akhirnya memastikan diri maju ke babak ke-4 Piala Liga Inggris. Di babak berikutnya, mereka bakal melawan AFC Bournemouth. Baca juga : Danny Ings, Harapan Baru Liverpool Memecah Kebuntuan   dan juga  Kemenangan Atas Ipswich Adalah Obat Luka Musim Lalu Setan Merah

Kemenangan Atas Ipswich Adalah Obat Luka Musim Lalu Setan Merah



Kemenangan Atas Ipswich Adalah Obat Luka Musim Lalu Setan Merah - Manchester United menghadapi babak ke-4 Piala Liga Inggris dengan menaklukkan Ipswich Town 3-0. Sang manajer, Louis van Gaal menyebutkan, kemenangan itu jadi penutup luka yang dialami fans di musim kemarin.

Bermain di depan publik Old Trafford, Kamis (24/9) dinihari WIB, MU bermain menguasai atas tim divisi Championship (tim yang ada selevel di bawah Premier League), Ipswich. Tiga gol MU masing-masing dicetak oleh Wayne Rooney, Andreas Pereira, serta Anthony Martial.

Hasil positif itu mengantarkan 'Setan Merah' menjejak babak ke-4. Hasil itu lebih sip daripada musim kemarin dengan mereka berhenti di babak ke-2. Saat itu, MU disingkirkan tim divisi Championships juga, MK Dons.

Van Gaal bertambah puas lantaran tidak ada pemainnya yang dibekap cedera di pertandingan itu. Kemenangan MU itu hanya dipersembahkan pada pendukung.

 " Musim kemarin kami tersingkir di babak kedua melawan MK Dons di pertandingan away. Saat itu, banyak pemain yang cedera serta saya mesti memasang tim pelapis. Kami tersingkir dan pendukung tidak puas, " kata Van Gaal seperti dilansir website resmi tim.

 " Saya rasa saya mesti melawan laga disini lewat cara yang berlainan. Kesempatan ini kami juga memiliki poin lebih bermain di kandang jadi dapat bermain lebih santai dalam menyuguhkan laga sebaik-baiknya pada fans, khususnya pendukung fanatik kami.

 " Kami sukses mengerjakannya dan itu sangat penting untuk saya. Tidak ada pemain yang cedera, kami menang serta kami melangkah ke babak selanjutnya, " terang dia. Baca juga : Ketika Liverpool Mendapat Cemooh Dari Pendukung Di Anfield  dan juga  IanWright Menyusul Dengan Memberi Pujian Kepada Anthony Martial

Selasa, 22 September 2015

Ian Wright Menyusul Dengan Memberi Pujian Kepada Anthony Martial



Ian Wright Menyusul Dengan Memberi Pujian Kepada Anthony Martial - Diawal kehadirannya ke Manchester United, label harga Anthony Martial mendapat cibiran lantaran dinilai terlalu tinggi. Namun, setelah menjalani start impresifnya, bermunculan juga penilaian sebaliknya. Ini diantaranya.

Martial dihadirkan MU mendekati penutupan bursa transfer musim panas dengan 36 juta poundsterling (kurang lebih Rp 779 miliar). Ini buat pemain 19 tahun itu jadi remaja termahal dunia, dengan nilai itu mungkin naik jadi 58 juta poundsterling (Rp 1,2 triliun).

Tidak sedikit yang memberi penilaian perekrutan Martial menjadi pembelian panik dari 'Setan Merah' untuk menaikkan ketajaman di lini depan, sesudah dilaporkan tidak berhasil memperoleh pemain-pemain incaran. Terlebih harga sedemikian besar di atas kertas dapat juga buat MU menghadirkan pemain yang lebih mempunyai nama. Jadi dorongan sebesar harga transfernya juga langsung menemani langkah Martial ke Old Trafford.

Pada prosesnya lalu, Martial start melalui langkah yang tidak kalah mengagetkan seperti transfernya. Dalam laga berbalut rivalitas panas lawan Liverpool di Anfield, Martial " mengucapkan salam kenal " dengan gol yang memantapkan kemenangan 3-1 untuk MU.

Sehabis cetak gol dalam kiprahnya itu, pesepakbola yang bahkan juga belum lancar berbahasa Inggris itu menggebrak lagi. Akhir minggu kemarin ia berperan untuk MU melalui dua gol dalam kemenangan 3-2 atas Southampton. Martial juga jadi topskorer sementara MU.

 " Siapa juga yang memikul tanggung jawab atas perekrutan itu, laki-laki atau wanita, layak memperoleh semacam medali lantaran keberaniannya untuk memberi dukungan penilaian itu dengan nilai transfer yang besar, " catat Ian Wright, ex pemain tim nasional Inggris, di The Sun yang dilansir Express.

 " Bila tiga pertandingan pertama Martial bisa sebagai dasar, ia bakal jadi penuntas serangan mengesankan  yang bakal menghancurkan pertahanan-pertahanan tim lawan serta secara signifikan menolong perubahan United. "

 " Kita akui saja United hanya menuju ke satu arah--dan itu yaitu kembali pada puncak sepakbola Eropa. Serta Martial dapat jadi katalis untuk mengantar mereka ke sana. "

 " Tingkat dorongan yang dihadapi Martial dalam dua minggu pertamanya di Premier League telah bakal menghancurkan beberapa pemain. Alih-alih bernasib seperti itu, pemain dengan bakat besar itu bukan hanya menjawabnya dengan baik tetapi juga sukses unjuk gigi pada peran barunya, " sebut Wright yang dalam karirnya ngetop dengan Arsenal. Baca juga : Setelah Arsene Wenger, Martin Keown Juga Angkat Bicara Seputar Costa

Senin, 21 September 2015

Setelah Arsene Wenger, Martin Keown Juga Angkat Bicara Seputar Costa



Setelah Arsene Wenger, Martin Keown Juga Angkat Bicara Seputar Costa - Bek legendaris Arsenal, Martin Keown, memberi penilaian striker Chelsea yaitu Diego Costa menjadi sosok provokator. Pernyataan ini dilontarkan pria berumur 49 tahun itu menyusul adu mulut yang terjadi antara Diego Costa dengan pemain belakang The Gunners, Gabriel Paulista.

Selama jalannya laga, Costa tampak selalu memepet Paulista sembari menyampaikan suatu hal. Sampai pada akhirnya wasit Mike Dean keluarkan kartu kuning kedua untuk Paulista yang terpancing emosi di menit-menit akhir babak pertama.

Unggul jumlah pemain, pasukan Jose Mourinho semakin gampang menggempur barisan pertahanan Arsenal waktu keduanya bersua di Stamford Bridge pada minggu keenam Liga Inggris akhir minggu tempo hari. Di menit 53, publik London Barat bersorak setelah Kurt Zouma cetak gol.

Petaka skuad Arsene Wenger makin tambah pada saat Santi Cazorla juga diusir wasit pada menit 79. Alhasil, sampai laga selesai, Arsenal yang disebut juara bertahan FA Community Shield itu cuma menyisakan sembilan pemain.

Chelsea sendiri sukses memanfaatkan keterpurukan rival sekotanya. Menit-menit akhir laga, pasukan Jose Mourinho melengkapi kemenangan melalui gol Eden Hazard yang menyempurnakan umpan Loïc Rémy.

“Saya pernah mengharapkan masih bisa selalu bermain di masa ini serta bisa melawan sebagian pemain. Diego Costa yang terpenting. Saya sedikit gila, serta saya meyakini dia juga sama. Hingga, saya bakal melawan dirinya dan membuktikan bahwa saya tidak bisa diprovokasi olehnya, ” papar Keown, seperti diberitakan Daily Mail, Senin (21/9/2015).

“Costa mempunyai sabuk hitam dalam ilmu provokasi. Ia mengerjakannya pada lawan saat bermain, ia secara konstan coba memancing reaksi dari lawan serta menganggu beberapa pemain belakang, ” sambung Keown yang membela Arsenal sepanjang 1993–2004 itu.

“Saya puas dikala Gabriel membela rekannya Laurent Koscielny. Telah terlalu lama pemain Arsenal tak saling melindungi. Tetapi, dia terlalu berlebih. Costa juga semestinya memperoleh kartu merah, ” selesainya. Baca juga : Maurizio Sarri Menjawab Keraguan Maradona Dengan Dua Kemenangan Telak   dan juga  Anthony Martial Sosok Pemuda Yang TernyataCukup Dewasa